Kamis, 13 Januari 2011 1 komentar By: obet

Tugas Akhir Dendrologi


BAB I
PENDAHULUAN

a.       Latar belakang
Indonesia adalah salah satu Negara yang kaya akan jenis-jenis pohon dan termasuk kawasan flora malesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki hutan tropis dan merupakan salah satu yang terluas di dunia. Hutan-hutan yang ada di Indonesia antara lain hutan mangrove, hutan pantai, hutan gambut, hutan hujan tropika, hutan musin, hutan daratan rendah, dan sebaginya.
Untuk melindungi dan mengenal keanekararagaman jenis-jenis pohan yang ada di hutan tersebut, maka didirikanlah beberapa kebun raya diantaranya Kebun raya Bogor, kebun raya cibodas, kebun rayapurwodadi, dan kebun raya'Eka Karya' Bedugul-Bali.
Pemancangan patok pertama yang menandai berdirinya Slands Plantentiun te Buitenzorg atau dikenal dengan nama Kebun Raya Bogor terjadi pada tanggal 18 Mei 1817 dengan luas 47 hektar. Berdirinya Kebun Raya yang didirikan di samping Istana Gubernur Jendral (sekarang Istana Bogor) ini berdasarkan gagasan dari pemrakarsa jerman yaitu Prof. Dr. C. G. L. Reindwardt. Saat ini, luas Kebun Raya Bogor mencapai 87 hektar. Luasan ini termasuk Istana Bogor yang berada di sekitar kawasan. Curah hujan di daerah yang mempunyai ketinggian 260 mdpl ini berkisar antara 3000 sampai 4300 mm/tahun. Sesuai dengan iklim daerah Bogor, Kebun Raya Bogor mempunyai koleksi tumbuhan tropika dataran rendah. Jumlah koleksi di Kebun Raya Bogor per Januari 2006 adalah 222 suku, 1257 marga, dan 3423 species. Sedangkan jumlah spesimen yang hidup yakni sekitar 13684 spesimen. Koleksi yang dimiliki Kebun Raya Bogor merupakan koleksi terlengkap yang ada di dunia.
Untuk perkembangan koleksi tanaman sesuai dengan iklim yang ada di Indonesia, Kebun Raya Bogor membentuk cabang di beberapa tempat, yaitu Kebun Raya Cibodas (Bergtuin te Cibodas, Hortus dan Laboratorium Cibodas) di Jawa Barat, luasnya 120 Ha dengan ketinggian 1400 mdpl, didirikan pada tanggal 11 April 1852 oleh Johannes Ellias Teijsmann, seorang kurator Kebun Raya Bogor pada waktu itu, dengan nama Bergtuin te Tjibodas (Kebun Pegunungan Cibodas). Kebun Raya Cibodas mengoleksi  tanaman dataran tinggi beriklim basah daerah tropis dan tanaman sub-tropis. Tahun 1891 Kebun ini dilengkapi dengan Laboratorium untuk Penelitian flora dan fauna.
Kebun Raya Purwodadi didirikan atas prakarsa Dr. D.F. Van Slooten pada tanggal 30 Januari 1941 sebagai Pemekaran dari Stasiun Percobaan S’Lands Plantentuin Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor. Luasnya 85 Ha dengan Ketinggian 250 mdpl, Curah hujan rata–rata per tahun 2366 mm dengan bulan basah antara bulan November dan Maret dengan suhu berkisar antara 22-32 C, kebun raya ini mengoleksi tanaman dataran rendah, dan iklim kering daerah tropis. Sedangkan Kebun Raya 'Eka Karya' Bedugul-Bali didirikan tahun 1959 oleh Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo. Luasnya 159,4 Ha dengan ketinggian 1400 mdpl, untuk koleksi tanaman dataran tinggi beriklim kering. Selain dari keempat kebun itu, masih ada lagi kebun yang lain, dimana hampir semua provinsi di Indonesia memiliki kebun raya.
Adapun tugas dan fungsi dari Kebun Raya tersebut yang mempunyai setidaknya satu juta pengunjung/tahun ini antara lain sarana konservasi ex-situ, pendidikan. Penelitian, serta wisata dan rekreasi (ekowisata).
Jumlah koleksi tumbuhan Kebun Raya Indonesia sampai dengan April 2008 adalah sebagai berikut:

Bogor
Cibodas
Purwodadi
Bali

Umum
Anggrek
Umum
Anggrek
Umum
Anggrek
Umum
Anggrek
Suku
219
1
242
1
173
1
355
1
Marga
127
120
816
66
839
69
835
78
Jenis
3.443
519
1.689
232
1.582
319
1.927
309
Spesimen
14.354
9.748
7.966
2.054
8.590
2.344
14.096
2.803
    Ket : Koleksi umum Kebun Raya Cibodas termasuk kaktus, sukulen dan lumut. Koleksi umum Kebun Raya "Eka Karya" Bali termasuk aquatik, paku, tanaman upacara adat dan nursery

Untuk itulah, setelah mempelajari mata kuliah dendrologi yang diberikan di Fahutan IPB serta praktikum Dendrologi selama satu semester ini sehingga pada akhir semester (praktikum akhir) diadakan kuliah lapang yang dilaksanakan di Kebun Raya Bogor. Pada saat kuliah lapang, mahasiswa diarahkan mengenal lebih dekat pohon, baik itu menyangkut sifat morfologi pohon, penyebaran, maupun kegunaannya.


b.      Tujuan
  1. Me-review dan melihat lebih dekat serta mengaplikasikan langsung materi kuliah dan praktikum yang diberikan sebelumya di lapangan.
  2. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang sejarah dan koleksi-koleksi flora yang dimiliki Kebun Raya Bogor.
  3. Menumbuhkan rasa cinta terhadap tumbuhan yang beranekaragam jenisnya serta menjaganya.
  4. Bekal sebelum mahasiswa menghadapi medan kerjanya setelah lulus sebagai sarjana kehutanan.

BAB II
PEMBAHASAN

Kuliah lapang yang diadakan pada tanggal 29 Desember 2009 di kebun raya bogor ini memiliki berbagai macan jenis tumbuhan. Untuk memudahkan dan mengenalnya Kebun Raya Bogor ditata berdasarkan famili koleksi yang dimilikinya. Dalam penataan ini, Kebun Raya Bogor dibagi ke dalam blok-blok (yang biasanya dipisahkan oleh jalan), diantaranya, yaitu: blok Fabaceae, Myrtaceae, Pandanaceae, Lecythidaceae, Sonneratiaceae, Dillenaceae, Rubiaceae, Ebenaceae, Arecaceae, Lauraceae, Podocarpaceae, Araucariaceae, Gnetaceae, Pinaceae, Moraceae, Sapindaceae, Apocynaceae, Sapotaceae, Sterculiaceae, Myristicaceae, Bombacaceae, Clusiaceae, Anacardiaceae, Burseraceae, Dipterocarpaceae, Casuarinaceae, Nymphaceae, dan Annonaceae. Berikut berberapa spesies tanaman beserta familinya yang diamati pada saat kuliah lapang.
1.      Nama lokal           :  Kempas
Nama ilmiah         :  Koompassia excelsa
Famili                   :  Fabaceae
Ciri khas               :  Daun majemuk ganda 2, plagiotropik, bentuk daun
                                       oblongus, meruncing, tata daun altenate, anak daun
                                       opposite, memiliki banir yang menyebar, bunga yang
                                       yang tidak beraturan, serta corolla teratas di dalam.
Kegunaan             :  Tempat beruang madu untuk mencari madu, kayu,
                                       penyubur tanah, peneduh, dan sebagainya.

2.      Nama lokal           :  Merbau
Nama ilmiah         :  Intsia bijuga
Famili                   :  Fabaceae
Ciri khas               :  Kulit batangnya mirip pengelupasan pada kulit pohon
   agathis. Daun majemuk dengan 2 pasang anak daun,
   terkecuali daun-daun di ujung yang hanya memiliki
   sepasang anak daun. Bunga-bunga terkumpul dalam
   karangan di ujung (terminal), buah polong, hitam besar.
Kegunaan             :  Penghasil kayu keras yang bernilai komersial yang
   terdapat di Papua untuk konstruksi bangunan.

3.      Nama lokal           :  Angsana
Nama ilmiah         :  Pterocarpus indicus
Famili                   :  Fabaceae
Ciri khas               :  Daun majemuk ganda 1, alternate, ovatus, tangkai daun
                                       Bentuk membulat, tepi daun bergelombang, bergetah
                                       merah, bunga yang tidak beraturan, corolla teratas di luar,
   serta buah yang bersayap.
Kegunaan             :  Peneduh di pinggir jalan-jalan, penyubur tanah, sebagai
   obat sakit gigi dan sariawan.

4.      Nama lokal           :  Sindur
Nama ilmiah         :  Sindora ciamensis
Famili                   :  Fabaceae
Ciri khas               :  batang lurus, kulit mengelupas, batangnya silindris tinggi
   besar (strata A), hitam, tidak berbanir, cabang ditebang
   jika mulai rapuh, buahnya berbentuk pipih dan berduri-
                                       duri, daun majemuk ganda 1, alternate serta anak daun
                                       apposite.
Kegunaan             :  Tanaman hias.

5.       Nama lokal          :  Ki hujan
Nama ilmiah         :  Samanea saman
Famili                   :  Fabaceae
Ciri khas               :  Batangnya simpodial dan kasar. Dua akar pohon ki hujan
                                       yang berdekatan akan menyatu.
Kegunaan             :  Tanaman peneduh

Rabu, 12 Januari 2011 0 komentar By: obet

Tips Praktis Membeli Sepeda Gunung

SEPEDA_GUNUNG_MTB
Bersepada selain dapat menyehatkan, juga dapat turut berperan dalam mengurangi polusi udara (global warming). Beberapa pihak berupaya menggalakkan aktifitas ini, baik melalui komunitas Bike To Work (BTW) yang digagas forum independent ataupun Sego Segawe yang digagas resmi oleh Pemkot Yogyakarta (Sepada Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe = Sepeda untuk sekolah dan Berkerja). Sepeda gunung atau mountain bike (MTB) merupakan salah satu jenis sepeda yang bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut, baik untuk kebutuhan olah raga, sekolah maupun bekerja. Untuk itu dalam pembelian sepeda gunung, sebaiknya anda mendasarkan pertimbangan pada fungsi kegunaan dan medan yang akan dialui. Berikut ini Tips membeli sepeda gunung:


1. Kenali Type Sepeda Gunung
Ada beberapa tipe sepeda gunung yang perlu anda kenali sebelum membeli, Yaitu tipe downhill (DH), Freeride (FR), Dirtjump (DJ), Cross Country (XC) dan All Mountain (AM). Pemilihan tipe sepeda sebaiknya anda sesuaikan dengan jenis aktifitas serta karakter madan yang akan anda tempuh. a) Tipe Downhill (DH) seperti gambar 1 dan 2, dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung. Mampu menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi dan selalu dilengkapi suspensi belakang untuk meredam benturan yang sering terjadi. Sepeda DH tidak mengutamakan kenyaman mengayuh karena hanya dipakai untuk turun gunung. Sepeda downhill juga lebih mengacu pada lomba, sehingga selain kekuatan, yang menjadi titik tekan dalam perancangannya adalah bagaimana agar dapat melaju dengan cepat. Untuk menuju ke lokasi, para downhiller tidak mengayuh sepeda mereka namun diangkut dengan mobil. Tipe ini tidak efisien apabila dipergunakan di dalam kota maupun di jalur cross country. b) Tipe Freeride (FR) seperti gambar 3, Dirancang untuk mampu bertahan menghadapi drop off (lompatan) tinggi dan kondisi ekstrim sejenisnya. Bodinya kuat namun tidak secepat dan selincah tipe all mountain (AM) karena bobotnya yang lebih berat. Kurang cocok untuk dipakai jarak jauh. c) Tipe Cross Country (XC) seperti gambar 4, dirancang untuk lintas alam ringan hingga sedang. Didesain agar efisien dan optimal pada saat mengayuh dan menanjak di jalan aspal hingga jalan tanah pedesaan. Biasanya cukup dengan tipe Hardtail (suspensi depan). d) Tipe Dirt Jump (DJ) seperti gambar 5, didesain untuk melakukan aktifitas lompatan-lompatan tinggi dan extreme, seperti halnya sepeda-sepeda BMX. Bentuk frame DJ biasanya berkesan kokoh dan gaya, namun agak terasa berat untuk jalur menanjak. DJ untuk keperluan Cross Country, biasanya dikombinasi dengan menggunakan
Selasa, 11 Januari 2011 0 komentar By: obet

video kampanye bike to campus

 Akhirnya video kampanye bike to campus versi Indonesia telah beredar..
share ya...

6 Mitos Sangat Keliru Mengenai Bersepeda ke Tempat Kerja

1. Naik sepeda terlalu berbahaya
Memang terdapat resiko yang nyata dalam menggunakan sepeda sebagai transportasi.  Sering pesepeda bertabrakan atau ditabrak oleh kendaraan lain. Namun seberapa bahaya bersepeda jika dibandingkan dengan moda transportasi yang lain? Ada fakta menarik yang mungkin anda belum menyadarinya.
Sebuah biro konsultan bernama Exponent (sebelumnya dikenal dengan Failure Group) telah melakukan pengujian keamanan, resiko kecelakaan  dan meneliti berbagai bentuk aktivitas yang kemudian mereka rangkum sebagai angka bahaya. Hasilnya, mereka menyatakan bahwa angka bahaya per sejuta jam berlangsungnya aktivitas adalah 0.26 untuk kegiatan bersepeda, 0.47 untuk berkendara mobil, 1.53 untuk ‘hidup’  (semua penyebab kematian natural), dan 8.80 untuk bersepeda motor. Dengan kata lain, penemuan mereka menyatakan bahwa resiko yang ditanggung ketika bersepeda hanyalah separuh dari resiko mengendarai mobil, bahkan hanya seperenam saja dari resiko yang terjadi ketika kita ‘tetap hidup’.
Mungkin angka diatas hanya sekedar angka, mungkin saja keliru dalam memprediksikan resiko keselamatan seseorang. Studi lain menunjukkan bahwa tingkat kefatalan dari kecelakaan yang melibatkan pesepeda 11 kali lebih parah dari penumpang di dalam mobil tiap kilometer perjalanan. Angka untuk pejalan kaki jauh lebih besar, sekitar 36 kali dibanding berkendara mobil.
Yang bisa kita pelajari dari studi-studi tersebut bahwa kita bisa meminimalkan kefatalan yang mungkin terjadi. Menggunakan pelindung kepala dan tangan, menggunakan lampu sepeda di malam hari, memberi tanda visual yang jelas ketika berganti arah dan mengendarai sepeda di lajur yang sesuai (paling kiri) akan meningkatkan tingkat keamanan dalam bersepeda. Jika kita berlaku sama seperti pengguna jalan lain, yaitu mematuhi aturan lalu lintas, tingkat keamanan yang kita capai akan signifikan.

2. Jarak tempat kerja terlalu jauh untuk ditempuh dengan bersepeda.
Ya, jika rumah dan kantor berjarak lebih dari 20 km mungkin akan memakan waktu dan tenaga terlalu banyak. Namun banyak cara untuk mensiasatinya. Tentukan jarak terdekat yang bisa anda tempuh dengan sepeda, lalu gunakan kedaraan umum ke tempat tersebut, istilahnya mix commuting. Sekarang anda juga bisa menggunakan sepeda lipat yang dapat dipadu dengan moda transportasi lain.
3. Untuk B2W saya bakal mebutuhkan sepeda yang mahal

Keliru besar. Anda harusnya bisa mendapatkan sepeda baru atau bekas yang layak untuk komuter dengan dana 900 ribu rupiah bahkan kurang. Carilah toko sepeda lokal dengan penjual yang ramah dan mengerti kegiatan komuter bersepeda, atau tanyakan teman yang sudah lebih lama bersepeda ke tempat kerja. Jelaskan kondisi jalan yang akan anda lalui dan jarak perjalanan, mereka akan membantu memilihkan sepeda yang sesuai. jangan terjebak membeli yang mahal hanya karena gengsi. Eric Doyne, Public Relation Shimano sempat menyatakan bahwa sepeda “lifestyle” , yaitu yang didesain untuk sehari-hari dan untuk pesepeda kasual adalah pasar yang paling besar dengan pertumbuhan paling tinggi untuk industri sepeda saat ini, jika dibandingkan dengan sepeda balap kelas atas atau mountainbike yang memang dikhususkan untuk kalangan penghobi.
Jika anda baru mulai B2W, carilah sepeda yang fungsional seperti sepeda komuter yang memiliki fender untuk melindungi baju anda dari kotoran, standar samping dan sadel yang nyaman untuk diduduki.

4. Bersepeda tidak bisa membawa barang-barang yang saya butuhkan
Berarti anda memang sungguh keliru. Atau anda menggunakan sepeda dan tas yang salah. Pannier bag dan keranjang sepeda yang bagus, trunk dan banyak lagi aksesories dapat ditambahkan untuk memudahkan anda membawa barang: laptop, baju ganti, kotak makan siang, beberapa buku, map, dan gadget apapun yang biasanya anda bawa. Lihatlah contoh sepeda berikut atau tas ini jika anda masih ragu.

5. Ketika tiba di kantor, kita akan kucel dan bau badan
Jika ini yang anda khawatirkan, silakan segera mandi setelah sampai tempat kerja. Jika tidak terdapat kamar mandi di kantor anda atau kegiatan mandi tidak terakomodasi baik, mandilah di tempat lain di sekitar kantor anda. Sebagai alternatif, anda dapat menggunakan tisu basah atau tisu bayi. Odor no more!

6. Bersepeda menyebabkan impoten pada lelaki.
Memang terdapat kejadian dimana pesepeda serius dapat mengalami disfungsi ereksi temporer bahkan permanen jika duduk berjam-jam pada sadel balap yang tidak sesuai. Namun telah banyak digunakan sadel seperti ini yang dilengkapi alur yang didesain ergonomis supaya tidak terjadi tekanan pada arteri dan syaraf kemaluan. Jika anda masih saja takut, ada juga sadel tanpa ‘hidung’. Selama sadel yang anda gunakan tepat dan sesuai, dan anda tidak berlatih sekeras atlet Tour de France, bersepeda justru mengurangi kemungkinan disfungsi ereksi dibanding tuduhan sebagai penyebabnya. Bersepeda akan membuat penyakit jantung (penyebab utama disungsi ereksi) menjauh dari kita.
sumber: http://b2w-jogja.web.id/category/panduan-bersepeda