Jumat, 23 Desember 2011 By: obet

Penjarangan dan Pemangkasan

Penjarangan merupakan tindakan pemeliharaan mengatur ruang tumbuh  dengan cara mengurangi kerapatan tegakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan kualitas pohon (Direktorat Jendral Pengusahaan Hutann, 1990). Menurut Kosasih dkk. (2002), penjarangan merupakan tindakan pengurangan jumlah batang per satuan luas untuk mengatur kembali ruang tumbuh pohon dalam rangka mengurangi persaingan antarpohon dan meningkatkan kesehatan pohon dalamn tegakan. Pada umumnya, untuk jenis pohon yang cepat tumbuh dilakukan penjarangan pada umur 3-4 tahun, sedangkan pada jenis yang lambat tumbuh dilakukan penjarangan pertama kali pada umur 5-10 tahun.
Penjarangan dilakukan agar tercipta fase-fase pertumbuhan secara baik yang meliputi fase semai (seedling/youngstage), fase sapihan (saplings/thickets), fase tiang (poles/pole stage), dan fase pohon (trees/timber and old timber stage). Tindakan penjarangan dilakukan pada fase tiang dan pohon dengan menebang sebagian pohon, sehingga produksi kuantitatif semata-mata diarahklan ke produksi kualitatif (Baker dkk, 1979).
Penjarangan memiliki enam metode pokok, yaitu penjarangan rendah, penjarangan tajuk, penjarangann seleksi, penjarangan seleksi, penjarangan mekanis, penjarangan bebas (Baker dkk, 1979), dan penjarangan jumlah batang (Manan, 1976; Darjadi dan Handjono, 1976).

  1. 1.      Penjarangan rendah
Penjarangan rendah dilakukan dengan cara menebang pepohonan kelas bawah. Tujuannya untuk membebaskan pepohonan dominan dan pohon kodominandari pengaruh persaingandengan kelas pohon yang lebih rendah. Dasar teorinya adalah terjadinya persaingan cukup berarti antara pohon kelas tajuk lebih rendah dengan pohon kelas dominan dan kodominan. Pohon kelas tajuk rendah menggunakan air dan hara dalam jumlah banyak sehingga merugikan pertumbuhan pohon dominan dan kodominan. Jumlah pohon yang ditebang pada penjarangan bervariasi antara 5% dan 40%. Pelaksanaan penjarangan harus secara bertahap. Penjarangan dimulai dengan menebang seluruh pohon kelas tajuk paling bawah, kemudian diikuti penebangan seluruh pohon kelas tajuk atasnya, demikian seterusnya hingga kebutuhan lingkungan tumbuh terpenuhi sesuai tujuan penjarangan.

  1. 2.      Penjarangan tajuk
Penjarangan tajuk dilakukan dengan cara menebang pepohonan kelas tajuk atas (pohon  dominan dan kodominan) yang tidak bernilai komersial, tujuannya agar pohon dominan dan kodominan yang bernilai komersial dapat tumbuh dengan baik. Pohon kelas tangan (intermediate) yang menghalangi pertumbuhan pohon bernilai komersial juha ditebang. Oleh karena itu, penjarangan tajuk disebut juga penjarangan tinggi, Dasar teroi penjarangannya adalah bahwa pepohgainan kelas tajuk atas yang tidak bernilai komersial menjadi pesaing yang cukup berarti untuk pepohonan komersial dalam memperoleh cahaya matahari, unsur hara, dan kebutuhan ruang tumbuh yang optimal.

  1. 3.      Penjarangan seleksi
Penjarangan seleksi dilakukan dengan cara menebang sewmua pohon nyang termasuk kelas pohon dominan. Tujuannya agar pohon bernilai komersial dalam keals pohonj kodominan dan tengahan dapat tumbuh dengan baik. Pohon kodominan dan pohon tengahan yang tidak ditebang diharapkan menjadi penyusun utama tegakan dan akan dipanen untuk masa yang akan datang. Pada tegakan seumur, penerapan penjarangan seleksi sangat bermanfaat untuk mengatur pertumbuhan tegakan dengan cara menebang pepohonan yang memiliki kecenderungan tumbuh terlalu cepat dan menekan pertumbuhan pohon lainnya.

  1. 4.      Penjarangan mekanis
Penjarangan mekanis dilakukan tanpa melihat posisi tajuk pohon dalam tegakan. Cara penjarangannya dilakukan pada tegakan muda dan seumur yang baru saja dimuali penjarangan. Pada tegakan muda dan seumur biasanya memiliki perbedaan tajuk yang tidak besasr, sehingga belum ada pembagian kelas tajuk pohon. Dasar yang digunakan untuk melakukan penjarangan adalah berdasarkan jarak pohon. Oleh karena itu ada dua macam pola penjarangan mekanis, yaitu penjarangan selang (spacing thinning) dan penjarangan jalur (row thinning).
Penjarangan selang dilakukan dengan pedoman jarak antarpohon, sehingga pohon dengan jarak tertentu dipertahankan untuk tidak ditebang dalam penjarangan, sedangkan pohon lainnya ditebang agar pohon yang tidak ditebang mendapatkan ruang tumbubh yang layak utnuk pertumbuhan optimalnya.
Penjarangan jalur atau penjarangan baris dilakukan dengan cara menebang pepohonan pada beberapa baris tertentu, sehingga akan membentuk jalur yang dapat berfungsi sebagai jalan keluiar masuk peralatan berat. Jadi, prinsipnya hanya dilakukan pada penjarangan awal, sedangkan penjarangan berikutnya dapat menggunakan metode lain.

  1. 5.      Penjarangan bebas
Penjarangan bebas dilakuakn tanpa memperhatikan posisi tajuk suatu pohon atau jarak pohon. Pada prinsip pelaksanaanya pohon yang ditebang memiliki kualitas yang bjelak berdasarkan pengamatan kesehatan, bentuk batang, karakteristik percabangan, dan lain sebagainya. Dengan demikian pohon yang terkana serangan hama dan penyakit, pohon berbatang bengkok (mengular maupun membusur), pohon yang tumbuh kerdil, pohon dengan batang patah harus ditebang pada penjarangan bebas.


  1. 6.      Penjarangan jumlah batang
Penjarangan jumlah batang merupakan metode yang umum digunakan di Indonesia. Metode penjarangn ini diciptakan oleh Hart kira-kira tahun 1929 (Manan, 1976). Oleh karena itu, metode ini juga disebut sebagai penjarangan metode Hart. Metode dilakukan berdasarkan atas pertimbangan tinggi pohon dan jumlah pohon dalam suatu tegakan.
Beberapa ketentuan umum yang dikemukakan Hart mengenai metode itu meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.       Penjarangan dilakukan menurut jumlah batang dan mencari perbandingan yang baik antara jumlah batang dengan ruang tempat tumbuh yang diperlukan untuk pertumbuhan pohon.
b.      Pohon yang baik supaya diberi ruang tumbuh memadai untuk proses pertumbuhannya.
c.       Kekerasan penjarangan dinyatakan dengan derajat kekerasan penjarangan, yaitu perbandingan antara rata-rata jarak antarpohon dengan tingginya, pohon peninggi.
Peninggi yaitu rata-rata tinggi pohon dari 100 pohon tertinggi tiap hektar yang tersebar merata (Manan, 1976). Beberapa sifat pohon yang diukur tingginya diukur tingginya sebagai pohon peninggi yaitu:
a.       Mudah ditemukan dan mudah diukurdi dalam suatu tegakan hutan.
b.  Merupakan pohon dominan dan pada umumnya tidak ditebang dalam penjarangan berdasarkan metode Hart.
c.       Memberikan riap tinggi secara nyata untuk pepohonan tertinggi dalam tegakan hutan.
d.      Dapat dijadikan petunjuk yang baik untuk bonita tanah (kesuburan tanah).
Berdasarkan teori Hart, pohon dapat tumbuh dengan baik apabila jarak antar pohon merupakan segitiga sama sisi sehingga membantuk ruang tumbuh yang terbagi sama.

Penjarangan pertama umumnya dilakuakan sesuai ketentuan sebagai berikut (Manan, 1976).
a.       Tegakan hutan dengan bonita kurang dari 3,5 dilakukan penjarangan pertama pada umur 2-3 tahun.
b.      Tegakan hutan dengan bonita lebih dari 4 dilakukan pada umur 2-2,5 tahun.

Pemangkasan
Pemangkasan merupakan salah satu kegiatan pemeliharaan pohon. Pemangkasan cabang merupakan kegiatan membuang cabang bagian bawah untuk memperoleh batang bebas yang panjang dan bebas dari mata kayu (Kosasih dkk., 2002). Selain itu, pemangkasan cabang dilakukan dengan tujuan memperkecil mata kayu dan memperbaiki kualitas bentuk kayu. Menurut Kosasih dkk. (2002), pemangkasan cabang hanya dilakukan terhadap hutan tanaman yang diperuntukan sebagai penghasil kayu pertukangan. Sedangkan hutamn tanaman yang diperuntukan untuk penghasil serat (pulp) dan kayu bakar tidak perlu pemangkasan cabang.
Pemangkasan cabang harus dilakuakan pada musim kemarau dan dikerjakan pada waktu cabang pohon mempunyai garis tengah sekecil mungkin. Hal ini menghindari terjadinya luka terlalu besar pada kayu. Intensitas pemangkasan cabang setiap kali melakukan pemangkasan 30% dari tajuk dengan menggunakan peralatan, antara lain pisau pangkas, gunting pangkas cabang atau gergaji pangkas. Kemudian luka bekas pemangkasan sebaiknya ditutup dengan ter atau paraffin (Kosasih dkk, .2002).
Pemangkasan cabang hanya diterapkan untuk jenis-jenis pohon dengan cirri-ciri sebagai berikut.
a.       Sedikit atau tidak mengalami pemangkasan alamiah (natural pruning)
b.      Kayu mempunyai nilai tinggi untuk dapat menutup biaya pemangkasan cabang.
c.       Kayu mempunyai resistensi tinggi terhadap pathogen yang kemungkinan masuk melalui luka bekas pemangkasan cabang.

Daftar Pustaka
Baker, F. S., T. W. Daniel, dan J. A. Helms. 1979. Principles of Silviculture. New York: McGraw-Hill Inc. Book Co.
Darjadi, L. dan R. Harjono. 1976. Sendi-sendi Silvikultur. Jakarta: Direktorat Jenderal Kehutanan. Departemen Pertanian.
Direktorat Jendral Pengusahaan Hutan. 1990. Pedoman petunjuk Teknis Pemeliharaan. Jakarta.
Indriyanto. 2008. Pengantar Budi Daya Hutan. Jakarta: Bumi Aksara
Kosasih, A. S., et al. 2002. Petunjuk Teknis Pemeliharaan dan Perlindungan pada Introduksi Jenis Pohon Hutan. Info Hutan No. 151. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.
Manan, S. 1976. Pengaruh Hutan dan Manajemen DAS. Bogor: Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

0 komentar:

Poskan Komentar